Melambat di Era yang Serba Cepat

Kerja lebih keras, lebih cepat dan lebih sukses lagi, cari uang lebih banyak, hustle more. Itu adalah kultur yang kita adaptasi dan jalani, namun sayangnya kebiasaan dan pola tersebut meminta bayaran yang besar, seperti kecemasan berlebih, overthinking, kelelahan mental/ burnout. 

Kamu barter kesejahteraan mental kamu demi mengejar hal yang kamu anggap mendatangkan kesuksesan, alhasil batin dan mental-mu berantakan, kesehatan fisik pun terpengaruhi, relasimu terhadap orang yang kamu cintai juga beresiko. 

Apabila kamu mengadaptasi pola tersebut di dalam hidupmu, tanya kepada diri, apakah itu sepadan? Apakah aku benar-benar kekurangan? Kenapa aku tidak pernah merasa puas? 

Kepercayaan.

Kepercayaan yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi dalam kultur Indonesia/ asia pada umumnya adalah “jangan pernah merasa puas dengan pencapaianmu”.

Terasa sekali ada ketakutan dan rasa malu untuk merasa cukup yang ditanamkan disini, tujuannya baik agar kita terus menerus berkembang, dan tidak terlena, malas dan serta memicu keinginan untuk terus berusaha lebih baik lagi.

Namun apabila kepercayaan ini merenggut hidupmu, seolah olah waktu berlalu tanpa bisa kamu nikmati, kamu perlu mereview pilihan dan pola kebiasaanmu.

Karena pandangan keliru tentang pencapaian akan membuat kita melihat overworked sebagai validasi bahwa gaya hidup yang kita jalankan bernilai.
Membuat kita harus selalu melakukan sesuatu bahkan saat istirahat, kita masih menonton, scrolling social media, atau membaca buku, kita harus mengerjakan. Pernahkah kita bertanya, mengapa kita selalu terburu-buru? Mengapa kita harus selalu melakukan sesuatu? Mengapa selalu merasa bersalah apabila satu hari saja hidup kita tidak produktif? Memangnya apa tujuan kita? Apa yang kita kejar?

Melambat, bukan berarti kamu berhenti berkembang/ berusaha lebih baik lagi, melainkan hadir sepenuhnya lewat apa pun yang kamu alami.

Hidup berlalu begitu saja, karena pikiran kita tertuju pada satu tujuan yang tidak ada habisnya. Akhirnya kita tidak memaknai hal-hal kecil di dalam kehidupan kita.

Tanya kepada dirimu : 

  1. Pernahkah aku jalan menuju tempat kerja, tanpa melihat social media/ update email, berjalan sembari merasakan pijakan kakiku, merasakan angin yang berhembus, dan suara di sekitarku, pernahkah aku menyadari apa reaksi batinku saat aku berjalan?
  2. Pernahkah aku mengunyah makanan dengan sungguh-sungguh? Merasakan setiap gigitan dan setiap rasa yang masuk melalui lidah dan mulutku?
  3. Pernahkah aku berhenti sejenak saat bekerja, hanya untuk menyadari napas yang keluar masuk? Atau suara di sekelilingku yang membuatku merasa damai atau terganggu?
  4. Pernahkah kamu berhenti sejenak sebelum memuaskan keinginan sesaatmu, seperti rasakan dorongan ingin mengambil handphone dan scrolling? Atau berhenti dan merasakan tubuh saat ingin beli makanan menyenangkan namun tidak sehat?

Melambat bukan berarti kabur dari tanggung jawab, atau doing nothing.

Namun mencoba hadir dan membersamai seluruh rasa, serta pengalaman batin kita dalam setiap waktu, detik dan napas kehidupan kita, alih-alih hidup dengan ketakutan akan tanggung jawab yang tidak pernah usai.

Seraya membuat kita berlatih untuk bukan sekedar hidup, namun benar-benar mengalaminya.

Karena pada akhirnya, hidup yang berarti bukanlah tentang pencapaian yang kita dapatkan, namun seberapa dalamnya kita hadir dan menjalani hidup.



“Semua yang kita cari dalam hidup—semua kebahagiaan, kepuasan, dan ketenangan batin—ada di sini, di saat ini. Kesadaran kita sendiri pada dasarnya murni dan baik.

Satu-satunya masalah adalah kita terlalu terperangkap dalam pasang surut kehidupan sehingga kita tidak meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan memperhatikan apa yang sudah kita miliki.

Jangan lupa untuk memberi ruang dalam hidup Anda untuk mengenali kekayaan dari hakikat mendasar Anda, untuk melihat kemurnian diri Anda dan membiarkan kualitas bawaan berupa cinta, welas asih, dan kebijaksanaan muncul secara alami. Peliharalah pengenalan ini seperti Anda memelihara bibit kecil. Biarkan ia tumbuh dan berkembang.”

― Mingyur Rinpoche

Public Teaching Jakarta, Sabtu, 21 November 2026


Melambat di Era yang Serba Cepat adalah Tema di Public Teaching, yang akan diisi langsung oleh Mingyur Rinpoche. Mari kita mendengarkan langsung petuah bijak dari Mingyur Rinpoche tentang cara mengatasi permasalahan batin di dunia modern yang serba cepat, memberikan ruang di batin kita untuk dapat membiarkan kualitas bawaan kita yang penuh cinta kasih dan kebijaksanaan muncul secara alami.

Acara ini adalah acara pembukaan kunjungan Mingyur Rinpoche Tour Teaching 2026 di Indonesia.

Gaya presentasi Mingyur Rinpoche yang unik dan menarik memadukan penceritaan dengan pemahaman dan cara praktis untuk membantu kita semua – baik Anda baru mengenal meditasi maupun praktisi berpengalaman.

Dengan humor, kecerdasan, dan kebaikan khasnya, Mingyur Rinpoche akan berbagi praktik dan ide untuk mendukung Anda dalam menghadapi kesulitan hidup dengan cara yang lebih konstruktif; membangun ketahanan dan stabilitas batin, serta membantu Anda menemukan kesejahteraan batin di tengah semua itu. Bahkan ketika semuanya tampak tidak baik-baik saja.

Dalam Public Talk kita akan diberikan cara dan teknik dasar meditasi, serta tanya jawab langsung dengan Mingyur Rinpoche.


Pendaftaran masih belum kami buka, Tunggu informasi selanjutnya tentang detail kedatangan Mingyur Rinpoche Ke Indonesia 2026.

Leave a comment